Thursday, 21 August 2014

Biografi Justin Bieber

Justin Bieber adalah anak dari pasangan muda Jeremy Jack Bieber (ayah) dan Patricia (Pattie) Lynn Mallette (ibu) dimana ibunya berusia 18 tahun saat melahirkan Justin. Pasangan ini berpisah pada saat Justin Bieber berumur 2 tahun. Pada umur 4 tahun Justin didaftarkan pada sekolah bermain drum oleh ibunya dan mulai belajar piano saat umur 7, dan gitar pada umur 10. Saat disekolah menengah ia belajar untuk bermain terompet. Ayahnya kemudian menikah lagi dengan Erin Bieber dan memiliki anak perempuan dan lelaki yang menjadi saudara tiri Justin Bieber.


Pada acara "Tonight Show" yang dipandu oleh Jay Leno Justin mengungkapkan bahwa saudara perempuannya, Jazmyn Bieber, memanggilnya "Bieber" dan ia sangat menyukai Pizza nanas ala Hawai. Pertemuan Bieber dengan Usher membawa dia dan ibunya pindah dari Ontario, Kanada ke Atlanta, Georgia, Amerika Serikat demi karir musiknya.

Pada usia 12 tahun, Justin mengikuti kontes menyanyi di kotanya, Stratford, dan memenangkan juara kedua. Sejak itu dia mulai mendokumentasikan penampilannya dan mengunggahnya di Youtube, untuk teman-teman yang tak sempat melihatnya tampil. Pada beberapa videonya, Justin menyanyikan lagu-lagu beberapa penyanyi ternama seperti Usher, Justin Timberlake, Ne-Yo, Chris Brown, dan Stevie Wonder dengan versinya sendiri.

Scooter Braun seorang Marketing Eksekutif dari So So Def yang tanpa sengaja menyaksikan penampilannya di Youtube, tertarik dan mengontak Bieber untuk kemudian menerbangkannya ke Atlanta, Georgia untuk bertemu Usher. Usher yang terpesona dengan apa yang ia lihat kemudian menggandeng L.A. Reid, Ketua Island Def Jam dan menawarkan kontrak rekaman melalui label rekaman Island Record pada Justin Bieber yang pada saat itu berumur 15 tahun. Justin kemudian menerbitkan singelnya "One More Time" dan videod di tahun 2009. Sementara album pertamanya, My World, diterbitkan pada November 2009.

Album ini juga menampilkan Usher, yang juga tampil dalam video musiknya, "One Time". Single pertamanya, One Time menduduki posisi ke 12 dalam Canadian Hot 100 dan posisi 26 di the Billboard Hot 100. Bersama Miranda Cosgrove, Bieber menjadi salah satu presenter dalam 2009 MTV Video Music Awards tepat sebelum penampilan Taylor Swift. Beberapa hari sebelumnya, Bieber tampil membawakan lagu "One Time" pada MTV VMA Tour untuk mempromosikan acara tersebut. Pada 26 September 2009, Bieber tampil pada acara YTV's The Next Star, dan mengumumkan bahwa "One Time" mendapatkan Platinum di Kanada. Pada acara yang sama Bieber juga mengumumkan bahwa singel keduanya, Lonely Girl, dirilis.

"Baby", single utama dari album keduanya yang muncul, yang mana dinyanyikan berduet dengan rapper Ludacris, dirilis pada bulan Januari 2010 dan menjadi single hit terbesarnya sejauh ini, mendapat chart ranting lima di US, dan mencapai sepuluh besar di tujuh Negara lainnya. Single digital keduanya, "Never Let You Go", dan "U Smile" merupakan hit tigapuluh besar pada US Hot 100, dan duapuluh besar di Kanada. According to review aggregator Metacritic, the album has received "generally favorable reviews". Itu muncul yang pertama di US Billboard 200, membuat Bieber, artis penyanyi solo termuda untuk mencapai chart teratas sejak Stevie Wonder in 1963.

Album My World 2.0 juga muncul pada nomer satu di Canadian Albums Chart, Irish Albums Chart, dan Australian Albums Chart, dan The New Zealand Albums Chart dan mencapai sepuluh besar di limabelas negara lainnya. Untuk mempromosikan albumnya, Bieber mucul menghadap beberapa orang atau langsung di program termasuk The View, The 2010 Kids Choice Awards, Nightline, The Late Show with David Letterman, The Dome dan 106 and Park. Pada April 2010, Bieber merupakan tamu dari konser musical Saturday Night Live. Pada 4 Juli 2010, Bieber tampil di Macy's Fourth of July Fireworks Spectacular di New York City. Single kedua dari album My World 2.0, "Somebody to Love", dirilis pada April 2010, dan versi lainnya atau remix dinyanyikan dengan mentor Bieber yaitu Usher. Pada
Juni 2010, single itu mencapai nomer 15 di Billboard Hot 100.

Pada 23 Juni 2010 tur Bieber dimulai di Hartford, Connecticut, untuk mempromosikan My World dan My World 2.0. Pada Juli 2010 media Toronto Sun Kanada mengumumkan bahwa Bieber merajai pencarian terbanyak untuk selebritis melalui mesin pencari seperti Google di Internet. dan video musiknya "Baby", mengungguli musik video Lady Gaga, "Bad Romance" dan menjadi video terbanyak yang pernah dilihat di YouTube.[24] Pada September 2010, Bieber mendapatkan 3 persen dari seluruh lalu lintas di Twitter, sebuah situs jejaring sosial .

Pada Juli 2010 Justin merekam albumnya di New York City. Dikarenakan Justin mengalami peralihan suara akibat pubertas, suara di albumnya menjadi lebih mendalam dari dibandingkan suaranya saat merekam album pertamanya. Penyanyi serta penulis lagu Inggris Taio Cruz memberikan informasi pada Juli 2010 bahwa ia sedang menulis lagu untuk album Bieber selanjutnya. Sementara produser genre Hip hop Dr. Dre menelurkan dua lagu dengan Bieber pada Juli 2010 namun lagi tersebut belum ditentukan akan mengisi album yang mana. Bieber tampil menyanyikan "U Smile", "Baby," dan "Somebody to Love" di 2010 MTV Video Music Awards pada 12 September 2010.

Bieber mengumumkan pada Oktober bahwa dia akan merilis album akustik yaitu My Worlds Acoustic. Itu dirilis pada Black Friday di United States dan keistimewaan versi akustik dari album di lagu pada album sebelumnya, dan dia juga merilis single pada album ini dan juga lagu baru yaitu "Pray".

Kedatangan Justin Bieber di Indonesia

Pada Januari 2011 koran The Jakarta Post mencatat ribuan pengemar di Jakarta antri untuk mendapatkan tiket konser Justin Bieber di Jakarta. Sejumlah 10.500 lembar tiket dipersiapkan, dan sebanyak 4.000 tiket habis terjual di hari pertama. Konser Justin Bieber pada tanggal 23 April 2011 yang bertempat di Sentul memiliki harga tiket bervariasi mulai dari Rp 500,000 (US $55) hingga Rp 1 juta.

Justin Bieber menjadi sensasi di Amerika Serikat pada tahun 2009 setelah ditemukan oleh Scooter Braun melalui video kompetisi menyanyi lokal "Stratford Star" di Ontario yang dipublikasikan di YouTube oleh ibu Justin di tahun 2007, dimana Justin meraih peringkat kedua. Scooter Braun, seorang agen pencari bakat dan mantan Marketing Eksekutif perusahaan So So Def melihat video ini dan memutuskan untuk mempertemukan Justin Bieber dengan Usher untuk audisi. Singel pertamanya yang berjudul "One Time", diterbitkan secara serentak diseluruh dunia di tahun 2009, dan meduduki peringkat 30 besar di lebih dari 10 negara. Albumnya pertamanya "My World" (Duniaku) kemudian mengikuti pada 17 November 2009 dan menerima penghargaan platinum di Amerika Serikat, dan menjadi penyanyi pertama yang memiliki tujuh lagu dari album pertama yang keseluruhannya berhasil mendapat peringkat di Billboard Hot 100, sebuah daftar lagu-lagu terkemuka yang sedang digemari.

Kepopuleran Justin Bieber diseluruh dunia dalam waktu singkat dikenal sebagai "Bieber Fever" (Demam Bieber) dimana julukan ini diberikan pada penggemarnya dengan obsesi yang berlebihan terhadap Justin Bieber. Banyak artis yang mengalami "Demam Bieber" diantaranya Jennifer Love Hewitt, dan Beyonce diperingatkan agar hati-hati oleh suaminya Jay-Z, saat berfoto bersama Justin Bieber pada penghargaan Grammy ke 52.

Walaupun dikenal akan suaranya, namun penyanyi ini juga mampu memainkan keyboards, piano, gitar, drum dan bahkan terompet, yang keseluruhannya dipelajarinya sendiri

Monday, 4 August 2014

BIOGRAFI AVRIL LAVIGNE

Avril Ramona Lavigne atau yang lebih populer sebagai Avril Lavigne merupakan musisi wanita asal Amerika. Ia adalah anak perempuan dari pasangan Jean-Claude Lavigne dan Judith-Rosanne yang lahir pada 27 September 1984 di Belleville, Ontario, Kanada. Avril adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Matthew sedangkan adiknya Michelle.

Masa kecil Avril dekat dengan musik. Ia kerap bernyanyi di gereja ketika usianya masih 2 tahun. Meski tumbuh dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau kelainan hiperaktif Avril mendapat dukungan penuh dari sang ayah untuk bermusik. Dia juga melatih kemampuan vokalnya di tempat karaoke bersama keluarganya. Sejak saat itu Avril belajar menulis lagunya sendiri.

Kemenangan Avril bersama Shania Twain di sebuah kontes radio tahun 1999 menjadi awal karirnya. Dari situ ia diminta menyumbangkan vokal untuk lagu "Touch the Sky" dari album "Quinte Spirit" (1999) milik Stephen Medd. Ia juga kembali memberikan suaranya di lagu-lagu Stephen sesudahnya, "Temple of Life" dan "Two Rivers". Di tahun yang sama, ketika ia bernyanyi di sebuah toko buku, Avril bertemu dengan manajer pertamanya Cliff Fabri.

Melalui promosi yang dilakukan Cliff Fabri, Avril bertemu CEO manajemen Nettwerk, Mark Jowett. Ia pun direncanakan berkolaborasi dengan produser musik, Peter Zizzo, untuk menulis lagu berjudul "Why" di New York selama musim panas 2000. Perjalanannya ke New York mempertemukannya dengan label Arista Records.

Avril berhasil mengesankan pihak label, Arista Records, melalui penampilannya. Saat itu juga Avril dikontrak senilai USD 1,25 juta (Rp 14 miliar) untuk 2 album. Dengan kontrak musik yang ia dapatkan, Avril memutuskan berhenti sekolah. "Aku tidak mungkin melepas kontrak musik yang sudah jadi impian besarku. Orang tuaku pun mengerti tentang keputusan yang aku buat," ungkapnya.

Penyanyi yang hobi membuat tato ini debut dengan album pertamanya, "Let Go", 4 Juni 2002. Album tersebut sukses membawa Avril melejit dengan menempati urutan kedua Billboard 200. Ia juga dinobatkan menjadi penyanyi solo termuda yang berhasil menduduki posisi jawara tangga lagu di Inggris.

Album yang mengusung lagu andalan "Complicated" itu pun berhasil mendapat 4 sertifikat platinum dari RIAA (Asosiasi Rekaman Amerika) dan sertifikat diamond dari Asosiasi Rekaman Kanada. Sederet penghargaan juga didapat Avril dari album perdananya ini seperti Best New Artist di MTV Video Music Awards 2002, 4 penghargaan Juno Awards 2003, piala World's Best Selling Canadian Singer pada World Music Award serta menjadi nominator 8 kategori Grammy Awards 2003.

Dua tahun sesudahnya, Avril hadir dengan album keduanya, "Under My Skin". Album yang rilis 25 Mei 2004 ini berhasil menjadi jawara di beberapa negara seperti Australia, Meksiko, Kanada, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat. Dari album yang terjual sebanyak 10 juta copy di seluruh dunia itu, Avril kembali menyabet berbagai penghargaan yaitu dua piala kategori World's Best Pop/Rock Artist dan World's Best Selling Canadian Artist dalam ajang World Music Awards 2004, 5 trofi Juno Award 2005 dan juara kategori Favorite Female Singer di Nickelodeon Kids' Choice Awards.

Avril tercatat telah menghadirkan 4 album dalam perjalanan karirnya sebagai penyanyi, "Let Go" (2002), "Under My Skin" (2004), "The Best Damn Thing" (2007) dan "Goodbye Lullaby" (2011). 2013, Avril kembali merilis album baru. Album berjudul "Avril Lavigne" itu menghadirkan duetnya dengan sang suami, Chad Kroeger di lagu "Let Me Go".

Tak hanya menulis lagu untuk albumnya sendiri, Avril juga menyumbangkan talentanya untuk membuat soundtrack beberapa film. Lagu "Breakaway" (2004) menjadi soundtrack film "Princess Diaries 2: Royal Engagement", "Keep Holding On" untuk film "Eragon" dan lagu "Alice" di "Alice in Wonderland.

Avril juga sempat merambah dunia akting. Ia tampil di beberapa judul film dan serial televisi seperti "Sabrina, the Teenage Witch" (2002), "Going the Distance" (2004), "The Flock" (2007) , pengisi suara film animasi "Over the Hedge" (2006) serta "Fast Food Nation" (2005).

Dalam kehidupan pribadi, Avril sempat merasakan kegagalan berumahtangga. Pernikahannya dengan vokalis Sum 41, Deryck Whibley, hanya bertahan 4 tahun (2006-2010). Avril kemudian menjalin kasih dengan Brody Jenner. Namun hubungan tersebut hanya bertahan selama 2 tahun. Avril dan Brody memutuskan berpisah Januari 2012.

Ia akhirnya mantap menikah dengan vokalis band asal Kanada, Nickelback, Chad Kroeger, Juli 2012. "Dia meletakkan sebuah foto polaroid di dalam scrapbook buatanku. Disana dia menuliskan "Will you marry me?" Itu sangat romantis bagiku," kata Avril pada satu wawancara. Chad pun memberikan komentarnya, "Aku pernah berpikir tak akan menikah seumur hidupku. Aku hanya beruntung dia (Avril) menjawab bersedia (menikah)," ungkapnya.

BIOGRAFI COLDPLAY

Coldplay merupakan sebuah band asal Inggris yang beranggotakan 4 orang anak muda. Menghargai hidup dan berbuat sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain, menjadi dasar mereka dalam menciptakan lagu. Plain dan simpel. Padahal lirik-lirik dalam lagu me
Coldplay merupakan sebuah band asal Inggris yang beranggotakan 4 orang anak muda. Menghargai hidup dan berbuat sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain, menjadi dasar mereka dalam menciptakan lagu. Plain dan simpel. Padahal lirik-lirik dalam lagu mereka tercipta di masa-masa maraknya hip metal yang sebagian besar berisikan isu kebobrokan sistem, keputusasaan dan kemarahan terhadap dunia sekitar. Tapi begitulah mereka. Mereka tidak mau terjebak dalam hal tersebut. Mereka memilih menjadi diri sendiri.
Kisah Coldplay berawal dari meja bilyar. Tepatnya sebuah meja bilyar yang terletak di sebuah pub tak jauh dari kampus mereka, University College of London. Satu malam di pertengahan tahun 1996, dua orang mahasiswa tampak asik bermain bilyar. Mereka adalah Jonny Buckland dan Chris Martin. Walaupun beda jurusan – Jonny kuliah di jurusan Matematika dan Astronomi, sedangkan Chris menekuni Sejarah Dunia Kuno – kedua cowok ini sudah lengket satu sama lain atas nama musik.
Nggak berapa lama meja itu nambah satu pemain. Kali ini adalah seorang mahasiswa jurusan Antropologi yang sempet beberapa lama jadi rekan se-tim chris di lapangan hoki kampus. Namanya Will Champion. Sembari terus bermain serta sesekali menenggak bir, ketiga cowok ini ngobrol dan mereka-reka kemungkinan buat sama-sama membentuk sebuah band. Yang pertama kali melontarkan gagasan adalah Chris Martin. Itu dicetuskannya lantaran vokalis yang gape memetik gitar akustik dan piano ini nggak puas sama bandnya saat itu, Pectoralz. Ajakan itu ditangapi serius sama Will. Padahal saat itu ia sudah tercatat sebagai personal band Fat Hamster. serupa juga sambutan dari Jonny. Cowok kelahiran Mold, wales Utara ini, malah langsung ngusulin nama Guy Berryman, temennya di asrama buat melengkap formasi band. Begitu dihubungi, Guy langsung menganggukkan kepalanya. Maklum, mahasiswa jurusan Teknik itu lagi suntuk terus-terusan mainin aliran progresif sama bandnya, Time Out. “Band itu gawat bener. Gara-gara personel yang paling jago di situ tuh ngefans berat sama Genesis, yang lainnya harus ikutin kemauannya. ue tersiksa banget ngiringin solo instrumen yang lama-lama jadi kedengaran nggak masuk akal !” kenang Guy
Setelah semua lini terisi, band yang sampe saat itu belum mempunyai nama itu segera menggelar workshop di gudang kosong yang ada di asrama mereka. Sesekali mereka boleh berlatih di ruang musik milik kampus. Selain menyamakan persepsi dengan ngebawain lagu-lagu milik band lain, mereka juga coba-coba bikin lagu sendiri. “Apa yang ada di kepala kami saat itu cuma musik, musik dan musik. Inti dari workshop sendiri adalah berusaha mengeluarkan yang terbaik dari tiap personel dan menkolaborasikannya menjadi sesuatu.” ingat Chris.
Saking getolnya bermusik, mereka nggak sempet mikirin soal nama band. Memang mereka pernah melontarkan nama-nama seperti Stepney, Green atau Starfish. Ujung-ujungnya, mereka memilih nama Coldplay, yang merupakan nama band milik salah seorang temen mereka yang udah bubar. “Pokoknya jangan pernah tanya apa arti ‘Coldplay’. Soalnya kami sendiri nggak pernah mikirin. Saat itu, cuma kata itulah yang paling masuk akal bagi kami ketimbang pilihan nama lainnya !” ungkap Chris cuek.
Memasuki 1998, Chris cs sepakat buat merekam sebagian materi yang dianggap udah mantap sebagai demo. bermodal beberapa ratus pounds mereka menyewa Sync City Studios dan mulai menggarap demo. Entah kesambet setan mana, rencana membuat demo itu di tengah jalan berkembang menjadi mini album, yang nantinya bakal diedarkan sendiri. Jadilah tuh demo diperbanyak sampe sekitar 500 keping CD dan dirilis pada bulan Mei tahun yang sama dengan titel Safety.
Nggak disangka dari 500 keping yang diedarkan di seputar London, hanya sekitar 50 keping yang tersisa. Nama Coldplay mulai terdengar gaungnya. Beruntung, ada beberapa keping CD yang udah tersebar itu jatuh ke tangan yang tepat. Siapa lagi kalo bukan petinggi-petinggi perusahaan rekaman. Alhasil nggak nyampe setahun kemudian Coldplay teken kontrak pertamanya dengan Parlophone Records.
Biar udah punya kontrak rekaman, kuartet ini tetap merasa perlu mempertinggi jam terbang di atas panggung. Mereka sadar betul kalo Coldplay tuh tergolong ‘BTL’ alias ‘band tembak langsung’, yang go straight ke dapur rekaman tanpa pengalaman manggung.
reka tercipta di masa-masa maraknya hip metal yang sebagian besar berisikan isu kebobrokan sistem, keputusasaan dan kemarahan terhadap dunia sekitar. Tapi begitulah mereka. Mereka tidak mau terjebak dalam hal tersebut. Mereka memilih menjadi diri sendiri.
Kisah Coldplay berawal dari meja bilyar. Tepatnya sebuah meja bilyar yang terletak di sebuah pub tak jauh dari kampus mereka, University College of London. Satu malam di pertengahan tahun 1996, dua orang mahasiswa tampak asik bermain bilyar. Mereka adalah Jonny Buckland dan Chris Martin. Walaupun beda jurusan – Jonny kuliah di jurusan Matematika dan Astronomi, sedangkan Chris menekuni Sejarah Dunia Kuno – kedua cowok ini sudah lengket satu sama lain atas nama musik.
Nggak berapa lama meja itu nambah satu pemain. Kali ini adalah seorang mahasiswa jurusan Antropologi yang sempet beberapa lama jadi rekan se-tim chris di lapangan hoki kampus. Namanya Will Champion. Sembari terus bermain serta sesekali menenggak bir, ketiga cowok ini ngobrol dan mereka-reka kemungkinan buat sama-sama membentuk sebuah band. Yang pertama kali melontarkan gagasan adalah Chris Martin. Itu dicetuskannya lantaran vokalis yang gape memetik gitar akustik dan piano ini nggak puas sama bandnya saat itu, Pectoralz. Ajakan itu ditangapi serius sama Will. Padahal saat itu ia sudah tercatat sebagai personal band Fat Hamster. serupa juga sambutan dari Jonny. Cowok kelahiran Mold, wales Utara ini, malah langsung ngusulin nama Guy Berryman, temennya di asrama buat melengkap formasi band. Begitu dihubungi, Guy langsung menganggukkan kepalanya. Maklum, mahasiswa jurusan Teknik itu lagi suntuk terus-terusan mainin aliran progresif sama bandnya, Time Out. “Band itu gawat bener. Gara-gara personel yang paling jago di situ tuh ngefans berat sama Genesis, yang lainnya harus ikutin kemauannya. ue tersiksa banget ngiringin solo instrumen yang lama-lama jadi kedengaran nggak masuk akal !” kenang Guy
Setelah semua lini terisi, band yang sampe saat itu belum mempunyai nama itu segera menggelar workshop di gudang kosong yang ada di asrama mereka. Sesekali mereka boleh berlatih di ruang musik milik kampus. Selain menyamakan persepsi dengan ngebawain lagu-lagu milik band lain, mereka juga coba-coba bikin lagu sendiri. “Apa yang ada di kepala kami saat itu cuma musik, musik dan musik. Inti dari workshop sendiri adalah berusaha mengeluarkan yang terbaik dari tiap personel dan menkolaborasikannya menjadi sesuatu.” ingat Chris.
Saking getolnya bermusik, mereka nggak sempet mikirin soal nama band. Memang mereka pernah melontarkan nama-nama seperti Stepney, Green atau Starfish. Ujung-ujungnya, mereka memilih nama Coldplay, yang merupakan nama band milik salah seorang temen mereka yang udah bubar. “Pokoknya jangan pernah tanya apa arti ‘Coldplay’. Soalnya kami sendiri nggak pernah mikirin. Saat itu, cuma kata itulah yang paling masuk akal bagi kami ketimbang pilihan nama lainnya !” ungkap Chris cuek.
Memasuki 1998, Chris cs sepakat buat merekam sebagian materi yang dianggap udah mantap sebagai demo. bermodal beberapa ratus pounds mereka menyewa Sync City Studios dan mulai menggarap demo. Entah kesambet setan mana, rencana membuat demo itu di tengah jalan berkembang menjadi mini album, yang nantinya bakal diedarkan sendiri. Jadilah tuh demo diperbanyak sampe sekitar 500 keping CD dan dirilis pada bulan Mei tahun yang sama dengan titel Safety.
Nggak disangka dari 500 keping yang diedarkan di seputar London, hanya sekitar 50 keping yang tersisa. Nama Coldplay mulai terdengar gaungnya. Beruntung, ada beberapa keping CD yang udah tersebar itu jatuh ke tangan yang tepat. Siapa lagi kalo bukan petinggi-petinggi perusahaan rekaman. Alhasil nggak nyampe setahun kemudian Coldplay teken kontrak pertamanya dengan Parlophone Records.
Biar udah punya kontrak rekaman, kuartet ini tetap merasa perlu mempertinggi jam terbang di atas panggung. Mereka sadar betul kalo Coldplay tuh tergolong ‘BTL’ alias ‘band tembak langsung’, yang go straight ke dapur rekaman tanpa pengalaman manggung.
Boleh percaya boleh nggak, biar udah mantap di jalur musik, Chris dkk ogah berkiprah lebih jauh karena kuliah mereka belum selesai. Cuma Guy aja yang ngak ngotot. Dengan beberapa pertimbangan, cowok ini rela nggak jadi tukang insinyur demi seratus persen menekuni musik. Begitulah. Sembari 3/4 personelnya berjuang di bangku kuliah, Coldplay juga berusaha buat terus berproduksi. Sampai akhirnya mereka merilis mini album lagi pada bulan April 1999. Berjudul Brothers and Sisters, tuh album dirilis dalam jumlah tiga kali lipat lebih banyak dari yang pertama. Album itu gak kalah larisnya. bahkan ada satu sngel yang sempet nongkrong di top 100 tangga lagu Inggris Raya.
Phil Harvey, yang menukangi manajemen Coldplay, jeli menangkap momen yang bisa melesatkan nama Coldplay. Seakan nggak mau menyia-nyiakan tren yang udah tercipta lewat Brohers and Sisters, Phil kembali menggiring Chris dkk masuk sudio rekaman buat memproduksi satu mini album lagi. Bulan Oktober 1999, mini album bertajuk The Blue Room itu dirilis. diikuti dengan sederet penampilan di berbagai festival bergengsi serta jadi pembuka buat Catatonia, jalan yang dilalui Coldplay saat itu bisa dibilang makin lapang terbentang. Tabloid musik paling bergengsi Inggris, NME, bahkan sempat menyebut mereka sebagai salah satu hottest band tahun 1999.
Seluruh fakta di atas bikin pede personel Coldplay makin berlipat-lipat. The time has come for Coldplay doing the real deal : Bikin full album !
Ternyata, jalan menuju pembuatan sebuah album penuh, nggak segampang yang dikira. Pasalnya, pihak label mereka saat itu belum terlalu yakin pada nilai jual band ini. Akhirnya, sambil mempersiapkan materi yang bakal dimuat di album penuh itu, Chris cs mutusin untuk sekali lagi merilis satu mini album. Kali ini, materinya adalah kompilasi dari yang pernah dirilis di Safety EP dan Brothers and Sisters plus beberapa materi baru. Biar masih diedarkan dalam jumlah terbatas, mini album bertitel Bigger Stronger itu terbilang sukses makin memancing perhatian khalayak. Terbukti, berbarengan dengan kemunculan album ini, muncul juga kritik yang bilang kalo Coldplay tuh nggak lebih dari sekadar pengekor Radiohead !
Kritik model begini makin santer, ketika mggak lama setelah itu, tuh band merilis singel Shiver yang keren itu. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Shiver kembali direspon antusias. Sempet terdafter sebagai salah satu heavy rotation songs di playlist Radio 1, videoklip singel itu juga lumayan kenceng diputer di MTV. Biar dicela kayak apapun juga, tetep aja singel itu mampu membawa Chris cs ke jenjang yang lebih tinggi dalam karir mereka. Untuk pertama kalinya, Coldplay mampu menembus jajaran Top 40 Inggris. Tapi itu belum seberapa dibanding ketika mereka melepas Yellow sebagai singel berikutnya. Singel yang dibilang Chris tercipta setelah terinspirasi sama cara bernyanyinya Neil Young itu, langsung melesat ke peringkat Top 10 Inggris dan bercokol di posisi 4 selama beberapa minggu nggak lama setelah dirilis. Lirik,“…Look at the stars/look how they shine for you/And all the things you do/And it was all yellow…” langsung jadi satu mantra wajib penggila musik di daratan nggris.
Nggak butuh waktu lama lagi bagi lagu itu jadi anthem anyar generasi yang udah bosen sama deruan gitar distorsi yang membalut lirik-lirik bertemakan kemarahan. Saking populernya, Coldplay pun jadi salah satu band yang paling ditunggu penampilannya di festival musik bergengsi Glastonbury 2000. Menurut Will, waktu itu sebelum manggung mereka nervous setengah mati sebelum naik panggung. Tapi bagaimanapun juga penampilan Coldplay selama 1 jam pada hari kedua festival itu berakhir manis.
Prestasi yang dicetak Yellow, ditambah suksesnya penampilan mereka di Glastonbury otomatis memperlancar jalan yang kudu ditempuh album debutnya yang dikasih judul Parachutes. Album itu dirilis tanggal 1 Juli 2000. Hanya dalam hitungan minggu, album berisi 11 lagu keren itu langsung meroket ke puncak tangga album terlaris di Inggris. Secara artistik, tuh album juga langsung mendapat pengakuan. Mereka sukses menyabet piala di Brits Awards, Mercury Prize, NME Carling Awards, sampai yang paling gres, Grammy Awards. Top banget ! Coldplay is now a really England’s next biggest thing !
Hebatnya lagi, apa yang udah diraih itu nggak pernah bisa merubah sifat dasar para personel Coldplay. Sopan, ramah dan rendah hati tetap jadi satu ciri yang mengemuka dari Chris, Will, Guy dan Jonny. “Kami nggak merasa perlu buat berubah. Soalnya kami cukup bersyukur sama apa yang udah kami miliki sejauh ini. Lagian kami juga nggak tau, kalo mau berubah tuh musti berubah kayak apa lagi ?” ucap Guy, polos.
“Buat kami rock ‘n roll tuh adalah kebebasan buat melakukan apa yang kami mau. Dan yang kami mau saat ini adalah gaya hidup yang biasa-biasa aja. Nggak perlu drugs apalagi jadi hedonis. Soalnya buat kami hal itu tuh basi dan klise banget. Kami nggak mau terjebak dalam klise-klise macam itu !” tandas Chris.

BIOGRAFI JASON MRAZ

Jason Thomas Mraz atau Jason Mraz Ia dilahirkan pada Juni 1977 dan di besarkan di Mechanicsville di Virginia. Memiliki hasrat yang kuat untuk musik, meskipun ia benar-benar mulai bermain gitar pada usia dewasa delapan belas tahun. Mraz belajar di New York dengan kursus teater musikal, tapi itu hanya untuk jangka waktu singkat. Dia akhirnya ditransfer ke San Diego, di mana ia bermain dengan Carlos Rivera Olmeda dan Toca klub di California Selatan.

Ia telah bermain dengan banyak musisi, diantaranya Jack Johnson, Dave Matthews Band, James Blunt, Gavin DeGraw, Paula Cole, John Popper, Alanis Morissette, The Ohio Players, Rachael Yamagata, Tristan Prettyman, James Morrison, Lisa Hannigan, John Mayer, Jewel, Colbie Caillat, dan Ingrid Michaelson.

Mraz sangat terkenal tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di Australia dan Jepang. Dia punya suara yang kuat dan jelas dengan lirik positif konten yang sesuai, yang membuat single pertama disebut: The Remedy (I wont Worry) besar hit pada tahun 2003. Saat itu, pada kenyataannya, bermain secara teratur selama stasiun radio, VH1, dan MTV. Kata tunggal yang juga membantu meningkatkan penjualan debut album: Waiting for My Rocket to Come, yang berbalik platinum oleh RIAA.

Jason Mraz telah dilakukan dengan seniman terkenal seperti Jewel, yang Dave Matthews Band, Bob Dylan, dll pada bulan November tahun 2005 di San Diegos Copley Symphony Hall. Ia

juga telah melakukan tur bersama Rolling Stones dan Alanis Morrissette. Nya menindaklanjuti album yang berjudul: Mr AZ diluncurkan beberapa bulan sebelum pertunjukan di San Diego, dan album diadakan 5 tempat di Billboard 200 chart. Mr AZ dijual dekat sampai 90.000 eksemplar dalam minggu pertama rilis. Album yang mengatakan juga dinominasikan untuk: Best Engineered Album dalam Grammy Award.

Jason Mraz, Penyanyi, Biografi, Musisi
Mraz ini juga muncul dalam The Kesenjangan iklan bernama: The Favorit, di mana ia bekerja dengan penyanyi terkenal lainnya seperti Joss Stone, Michelle Williams, Keith Urban, dll Mraz juga dilakukan dari waktu ke waktu dengan Billy Galewood, seorang seniman yang berkonsentrasi pada funk, hip-hop, dan elemen rakyat, dan merupakan sesama mahasiswa Mraz di New York. Kedua juga bekerja sama pada beberapa lagu, termasuk single ketiga Mraz berjudul: tepi jalan Nabi, dari album: Waiting for My Rocket to Come. Mraz dan juga Galewood melanjutkan tur bersama pada tahun 2005.

Beberapa penghargaan Mraz telah dibawa pulang termasuk: Jawaban Acoustic tahun 2003 San Diego Music Award, Artist of the Year masih di San Diego Music Award, dll trivia lain tentang Jason Mraz: nama terakhir: Mraz adalah sebenarnya berasal dari Ceko, yang berarti embun beku, dia pernah menjadi seorang pemandu sorak, ia digunakan untuk melakukan mingguan di Jawa Joes di California.

Sunday, 3 August 2014

Biografi Adele


Nama asli : Adele Laurie Blue Adkins

Tanggal lahir : 05 Mei 1988 
Lahir di : Tottenham, London, UK 
Zodiac : Taurus 
Terkenal sejak merilis single "Chasing Pavements" (2008)
Adele Laurie Blue Adkins atau yang lebih dikenal sebagai Adele merupakan penyanyi dan penulis lagu kelahiran Tottenham, London, UK, 5 Mei 1988. Dia adalah anak tunggal pasangan Penny Adkins dan Mark Evans. Namun sang ayah telah pergi sejak Adele berusia 2 tahun. Ia pun sempat mengaku belum bisa memaafkan sikap ayahnya itu.

Musik sudah jadi kecintaan Adele sejak usia 4 tahun. Ia sering tampil di pertunjukan yang digelar sang ibu dengan membawakan lagu-lagu milik Spice Girls. Adele pertama kali menulis lagu ciptaannya sendiri, "Hometown Glory", di usia 16 tahun.

Kecintaan Adele pada musik berlanjut hingga bangku kuliah. Selepas lulus dari The BRIT School for Performing Arts & Technology pada Mei 2006, Adele sering mengunggah lagu ciptaannya di situs PlatformsMagazine.com dan MySpace. Ia yang mulai terkenal di media online menapaki babak baru dalam karir bermusik ketika lagunya menarik perhatian XL Recordings.

Adele memulai karir profesionalnya dengan menyumbang suara di lagu "My Yvone" milik Jack Penate setelah bergabung dengan September Management dan XL Recordings di 2006. Ia kemudian merilis single perdananya, "Hometown Glory", 22 Oktober 2007.

Setahun kemudian, Adele berhasil merilis debut album "19". Lagu andalannya, "Chasing Pavements", yang dirilis pada 28 Januari 2008 berhasil meraih posisi puncak tangga lagu di Inggris dan Billboard Hot 100.

Vokal mumpuni Adele membawa album perdananya itu masuk nominasi dan mendapatkan penghargaan. "19" tercatat sebagai nominator ajang Mercury Prize 2008. Album berisi 12 lagu ini juga memborong 2 piala Grammy Awards 2009 untuk kategori Best Female Pop Vocal dan Best New Artist.

Adele kembali hadir lewat album kedua, "21", di 2011. Album ini diakui Adele terinspirasi dari kisah cintanya. Di album tersebut, Adele mencoba mengusung genre musik country yang dipadukan blues.

Lagu "Someone Like You" dari album "21" sukses ditampilkan Adele dengan gemilang di acara BRIT Awards 2011. Penampilannya itu berhasil mendongkrak penjualan album "19" dan "21". Tak hanya itu, "Someone Like You" dan "Rolling in the Deep" yang juga termasuk dalam "21" berhasil meraih posisi di 5 besar tangga lagu Inggris. Pencapaian tersebut merupakan prestasi besar menyamai rekor The Beatles di 1964.

Prestasi Adele di album kedua tak berhenti sampai di situ. "21" sukses mengalahkan catatan rekor album "Back to Black" (2006) milik Amy Winehouse sebagai album paling laris di sepanjang abad ke-21 dengan terjual sebanyak 3,4 juta copy di Inggris saja. Adele juga menjadi satu-satunya penyanyi yang berhasil membawa tiga single-nya, "Chasing Pavements", "Someone Like You" dan "Set Fire to the Rain", menempati posisi pertama tangga lagu Billboard Hot 100.

Selain itu, Adele merupakan penyanyi kedua setelah Beyonce Knowles yang membawa pulang 6 piala Grammy Awards sekaligus. Enam kategori di Grammy Awards 2012 yang dimenangkannya antara lain, Record of The Year, Album Terbaik, Lagu Terbaik, Penampilan Solo Terbaik, Album Pop Terbaik serta Video Musik Pendek Terbaik.

Penyanyi yang disebut sebagai 1 dari 100 orang berpengaruh di dunia versi majalah TIME ini kembali membuat pencapaian luar biasa, Oktober 2011. Ia tercatat sebagai satu-satunya penyanyi yang mendapatkan penghargaan Diamond Cerification dari RIAA (Asosiasi Industri Rekaman Amerika) sejak satu dekade terakhir.

Sayangnya Adele harus vakum sejenak setelah mengalami pendarahan pita suara di 2011. Akibatnya, Adele harus menjalani operasi bedah mikro di Boston dan terpaksa membatalkan 6 konser di Inggris serta 10 penampilan di Amerika.


Untungnya tak butuh waktu lama bagi Adele untuk comeback. Ia dipercaya menggarap dan menyanyikan single soundtrack film James Bond, "Skyfall", berjudul sama, yang rilis 2012. Lagu yang digarap dengan alunan musik orkestra itu sukses debut di posisi ke-8 tangga lagu Billboard Hot 100. Single tersebut juga berhasil memenangkan piala Golden Globe Award (2013) dan Academy Award (2013) kategori Best Original Song. Di tahun yang sama, Adele kembali meraih trofi Grammy Awards kategori Best Solo Pop Performance untuk lagu "Set Fire to the Rain".

Kesuksesan sebagai penyanyi membuat Adele kerap menjadi korban bullying artis lain. Ia pernah dikritik oleh desainer Jerman Karl Lagerfeld dan bintang TV Joan Rivers yang menganggapnya terlalu gemuk. Fans Lady GaGa bahkan sempat meledek penyanyi berkebangsaan Inggris itu lewat Twitter di 2011. "GaGa tidak akan memakai gaun dagingnya karena takut Adele akan memakannya," ejek seorang fans saat itu.

Namun kritikan membuat Adele tetap berkarya. Selain itu, ia juga menikmati kehidupannya sebagai seorang ibu. Adele saat ini telah dikaruniai seorang anak bernama Angelo James Konecki. Bayi yang lahir 19 Oktober 2012 ini merupakan buah cinta Adele dengan sang kekasih, Simon Konecki (sejak 2011).